Tim Pendamping Kecamatan Tebas

Periode 2025 - sekarang

Tim Pendamping Kecamatan Tebas

Periode 2018 - 2022

Tim Pendamping Kecamatan Tebas

Periode 2016 - 2018

Kamis, 02 Juli 2026

Data Berkualitas, Intervensi Tepat Sasaran: Konvergensi Desa Menjadi Kunci Percepatan Penurunan Stunting di Kecamatan Tebas


Tebas, 2 Juli 2026 – Upaya percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya dengan menjalankan program. Keberhasilan juga ditentukan oleh kualitas data, ketepatan sasaran, dan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Melalui Monitoring eHDW (electronic Human Development Worker) Data Konvergensi Desa Terakhir Triwulan (TW) III Tahun 2026, Kecamatan Tebas terus memperkuat komitmen dalam memastikan setiap desa mampu melaksanakan konvergensi pencegahan stunting secara terukur dan berkelanjutan. eHDW menjadi instrumen digital yang mendukung desa dalam memantau layanan dan konvergensi pencegahan stunting. 

Berdasarkan hasil monitoring per 2 Juli 2026, seluruh 23 desa di Kecamatan Tebas telah melakukan pembaruan data konvergensi. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa 9 desa (39,13%) berada pada kategori Sedang, 5 desa (21,74%) pada kategori Tinggi, 3 desa (13,04%) pada kategori Cukup, dan 6 desa (26,09%) masih berada pada kategori Rendah. Rata-rata nilai konvergensi mencapai 52,48, yang menempatkan Kecamatan Tebas secara umum pada kategori Sedang.

Capaian terbaik diraih oleh Desa Dungun Perapakan dengan nilai 92,50, disusul Desa Tebas Sungai (90,95), Desa Tebas Kuala (90,64), Desa Segarau Parit (82,91), dan Desa Segedong (75,53). Hasil tersebut menunjukkan bahwa penguatan koordinasi lintas sektor, validitas data, serta konsistensi pelaporan mampu menghasilkan capaian konvergensi yang optimal. Desa-desa tersebut diharapkan menjadi contoh praktik baik bagi desa lain dalam memperkuat kualitas pelaksanaan program.

Di sisi lain, masih terdapat enam desa yang berada pada kategori rendah, yaitu Desa Seret Ayon, Maribas, Pusaka, Seberkat, Mensere, dan Serumpun Buluh. Kondisi ini menjadi perhatian bersama agar pembinaan, pendampingan, dan monitoring dapat dilakukan secara lebih intensif. Penguatan kapasitas pemerintah desa, Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader kesehatan, serta Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) desa menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas data dan memastikan seluruh sasaran memperoleh layanan secara optimal.

Monitoring eHDW bukan sekadar kegiatan pelaporan, melainkan bagian dari proses evaluasi yang menjadi dasar pengambilan keputusan. Data yang akurat akan menghasilkan perencanaan yang tepat, sehingga intervensi spesifik maupun sensitif dapat diberikan kepada keluarga sasaran secara efektif. Semangat "Kerja Berdampak" menjadi pengingat bahwa setiap data yang diinput bukan sekadar angka, tetapi representasi dari upaya nyata untuk meningkatkan kualitas hidup ibu, anak, dan keluarga di desa.

Melalui kolaborasi pemerintah desa, pendamping desa, tenaga kesehatan, kader, serta seluruh pemangku kepentingan, diharapkan seluruh desa di Kecamatan Tebas mampu meningkatkan capaian konvergensinya pada triwulan berikutnya. Dengan data yang berkualitas dan komitmen yang kuat, percepatan penurunan stunting bukan hanya menjadi target, tetapi menjadi gerakan bersama menuju desa yang sehat, maju, dan sejahtera.

"Data yang akurat melahirkan kebijakan yang tepat. Kolaborasi yang kuat menghadirkan perubahan yang nyata. Bersama, kita wujudkan Desa Bebas Stunting melalui Kerja Berdampak."

Penulis: Syafiudin
Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Tebas
Kerja Berdampak

-------------------------------- - Unit Kompetensi: - Dokumentasi:

Cerita Pendamping Desa Matang Labong: Tuntaskan Verifikasi eHDW, Wujudkan Data Akurat untuk Percepatan Penurunan Stunting


Oleh: Syafiudin – TPP Kerja Berdampak Tebas

Matang Labong, Tebas, Sambas, 1 Juli 2026 – Komitmen dalam mendukung percepatan penurunan stunting terus diwujudkan di Desa Matang Labong, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Melalui pendampingan intensif bersama pemerintah desa, Kader Pembangunan Manusia (KPM), bidan desa, dan seluruh unsur terkait, proses verifikasi dan validasi data pada aplikasi eHDW (electronic Human Development Worker) berhasil diselesaikan dengan baik.

Berdasarkan hasil input dan pemutakhiran data, Score Card eHDW Desa Matang Labong Triwulan II Tahun 2026 berhasil dicetak dengan capaian 64,09 persen. Capaian ini menjadi gambaran penting atas pelaksanaan layanan konvergensi percepatan penurunan stunting di tingkat desa sekaligus menjadi dasar dalam menyusun langkah perbaikan pada periode berikutnya.

Aplikasi eHDW merupakan instrumen digital yang digunakan untuk mendukung pendataan, pemantauan layanan, serta evaluasi konvergensi percepatan penurunan stunting di desa. Keakuratan data menjadi faktor utama agar setiap program dan intervensi pemerintah dapat diberikan kepada sasaran yang benar.

Sebagai Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kerja Berdampak Kecamatan Tebas, Syafiudin menyampaikan bahwa keberhasilan penyelesaian verifikasi bukan sekadar memenuhi target administrasi, tetapi menjadi fondasi dalam membangun kebijakan yang berbasis data.
"Data akurat adalah langkah nyata untuk menurunkan stunting di desa. Ketika data sudah valid, pemerintah desa dapat menyusun program yang tepat sasaran sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat."

Menurutnya, proses verifikasi dilakukan melalui koordinasi yang baik antara pemerintah desa, KPM, tenaga kesehatan, serta pendamping desa sehingga setiap data sasaran dapat dipastikan kesesuaiannya sebelum ditetapkan dalam sistem eHDW.

Manfaat yang diperoleh dari proses verifikasi dan validasi ini antara lain:
  • Data valid sebagai dasar perencanaan pembangunan desa.
  • Layanan tepat sasaran bagi ibu hamil, balita, dan keluarga berisiko stunting.
  • Desa sehat bebas stunting melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Ke depan, capaian Score Card eHDW sebesar 64,09 persen diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kualitas pendataan, memperkuat sinergi lintas sektor, serta memperluas cakupan layanan kepada kelompok sasaran. Dengan semangat Kerja Berdampak, Desa Matang Labong optimistis mampu meningkatkan capaian konvergensi stunting pada triwulan berikutnya demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

"Data Valid, Layanan Tepat Sasaran, Desa Sehat Bebas Stunting."



-------------------------------- - Unit Kompetensi: - Dokumentasi:

Rabu, 01 Juli 2026

Rembuk Stunting Kecamatan Tebas Tahun 2026 Rampung Seluruh Desa Terverifikasi


Tebas, 1 Juli 2026 – Pelaksanaan kegiatan Rembuk Stunting di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, menunjukkan capaian yang positif. Berdasarkan data pada aplikasi eHDW Monitoring Tahun 2026, seluruh desa yang telah melaksanakan kegiatan tercatat berstatus terverifikasi, menandakan proses pelaksanaan dan pelaporan berjalan sesuai ketentuan.
Dari data yang tersedia, sedikitnya 23 desa telah menyelenggarakan Rembuk Stunting sepanjang Juni 2026. Kegiatan ini merupakan forum strategis untuk menyusun komitmen bersama dalam upaya percepatan penurunan angka stunting melalui sinergi pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, serta berbagai unsur masyarakat.
Total peserta yang mengikuti kegiatan mencapai 1.069 orang, terdiri dari 773 peserta laki-laki dan 296 peserta perempuan. Rata-rata kehadiran peserta di setiap desa mencapai sekitar 46 orang, mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mendukung program percepatan penurunan stunting.

Beberapa desa mencatat tingkat partisipasi yang cukup tinggi, di antaranya Desa Tebas Sungai dengan 68 peserta, Desa Pangkalan Kongsi sebanyak 64 peserta, serta Desa Batu Makjage dengan 61 peserta. Tingginya jumlah peserta menunjukkan kuatnya komitmen pemerintah desa dan masyarakat dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini.
Meski demikian, evaluasi juga menunjukkan bahwa komposisi peserta masih didominasi oleh laki-laki, yaitu sekitar 72 persen, sedangkan perempuan sekitar 28 persen. Kondisi ini menjadi perhatian mengingat isu stunting sangat berkaitan dengan kesehatan ibu, balita, dan keluarga sehingga keterlibatan perempuan dalam forum perencanaan diharapkan dapat terus ditingkatkan.
Pelaksanaan Rembuk Stunting berlangsung sepanjang 10 hingga 30 Juni 2026, dengan sebagian besar desa melaksanakan kegiatan pada pekan ketiga dan keempat bulan Juni. Seluruh kegiatan telah terdokumentasi melalui sistem eHDW Monitoring sehingga memudahkan proses pemantauan dan evaluasi oleh pemerintah daerah.

Capaian ini menjadi indikator bahwa koordinasi lintas sektor dalam upaya penanganan stunting di Kecamatan Tebas semakin baik. Melalui Rembuk Stunting, pemerintah desa diharapkan mampu menyusun program prioritas yang lebih tepat sasaran, mulai dari peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi, sanitasi, hingga edukasi keluarga.
Pemerintah Kecamatan Tebas berharap hasil Rembuk Stunting Tahun 2026 tidak berhenti pada tahap perencanaan semata, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui pelaksanaan program yang terintegrasi dalam perencanaan pembangunan desa. Dengan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan, target percepatan penurunan prevalensi stunting di Kecamatan Tebas diharapkan dapat tercapai secara optimal dan berkelanjutan.

Oleh : Syafiudin TPP Kec Tebas Kerja Berdampak

  -------------------------------- 
- Unit Kompetensi:
- Dokumentasi:

Jumat, 05 Juni 2026

Unit Ketahanan Pangan BUMDes Maju Bersama Desa Sejiram Berikan Manfaat Nyata bagi Desa dan Peternak

Editor: Risko Syakirin (Koordinator TPP Kecamatan Tebas)

Tebas - Desa Sejiram kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan desa melalui pengelolaan Unit Ketahanan Pangan yang dijalankan oleh BUMDes Maju Bersama. Program penggemukan dan pemeliharaan sapi yang dilaksanakan sepanjang tahun 2026 ini tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi peternak, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan BUMDes sebagai salah satu pilar penggerak ekonomi desa.

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan tiga peternak mitra, yaitu Pak Darni, Pak Pardi, dan Pak Ogah, dengan total pemeliharaan sebanyak 7 ekor sapi. Melalui pola kerja sama yang mengedepankan prinsip transparansi, amanah, dan kebermanfaatan bersama, seluruh proses usaha peternakan dikelola secara profesional untuk menghasilkan keuntungan yang optimal.

Berdasarkan laporan usaha yang dipublikasikan, total modal yang digelontorkan mencapai Rp146.000.000 dengan biaya pakan sebesar Rp11.063.800. Dari hasil penjualan ternak, diperoleh nilai penjualan sebesar Rp205.500.000 sehingga menghasilkan laba usaha sebesar Rp48.436.200.

Keuntungan tersebut kemudian dibagikan sesuai kesepakatan kemitraan, yaitu 30 persen untuk BUMDes dan 70 persen untuk peternak. Dari total laba yang diperoleh, BUMDes Maju Bersama menerima bagian sebesar Rp14.530.860, sedangkan peternak memperoleh bagian sebesar Rp33.905.340.

Secara rinci, Pak Darni yang mengelola 3 ekor sapi berhasil mencatat laba sebesar Rp20.923.200. Dari jumlah tersebut, BUMDes memperoleh Rp6.276.960 dan peternak menerima Rp14.646.240. Sementara itu, Pak Pardi yang juga memelihara 3 ekor sapi memperoleh laba sebesar Rp19.013.000, dengan pembagian Rp5.703.900 untuk BUMDes dan Rp13.309.100 untuk peternak. Adapun Pak Ogah yang memelihara 1 ekor sapi menghasilkan laba sebesar Rp8.500.000, dengan pembagian Rp2.550.000 untuk BUMDes dan Rp5.950.000 untuk peternak.

Keberhasilan program ini menjadi bukti bahwa pengelolaan unit usaha ketahanan pangan yang dikelola BUMDes mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat desa. Selain meningkatkan pendapatan peternak, keuntungan yang diterima BUMDes juga dapat dimanfaatkan kembali untuk pengembangan usaha produktif lainnya yang mendukung kesejahteraan masyarakat Desa Sejiram.

Melalui semangat kebersamaan dan pengelolaan yang akuntabel, Unit Ketahanan Pangan BUMDes Maju Bersama diharapkan terus berkembang dan menjadi contoh praktik ekonomi desa yang berkelanjutan, mandiri, serta mampu mendukung ketahanan pangan dan kemakmuran masyarakat desa.

#BUMDesMajuBersama #DesaSejiram #KetahananPanganDesa #BUMDesProduktif #EkonomiDesa #KecamatanTebas #KetahananPanganNasional

-------------------------------- - Unit Kompetensi: - Dokumentasi: